Senin, 26 April 2010

Kiai Di Lembah Hitam

Walau dilahirkan dari keluarga petani, tepatnya di daerah Pagedan Baru, Kabupaten Subang, pria kelahiran 16 April 1943 ini ternyata berhasil menapaki dunia dakwah sampai sekarang. KH Imam Sonhaji namanya.Imam Sonhaji adalah sosok yang lembut dan penuh dedikasi.
Sebagai anak sulung dari enam bersaudara, Kiai Sonhaji tampak lebih dewasa dibandingkan saudara-saudaranya.Sejak kecil Sonhaji sudah bercita-cita ingin menjadi ulama,”Setelah lulus SR (Sekolah Rakyat) saya ditawari melanjutkan sekolah tetapi hal itu senghaja saya tolak, karena saya lebih senang terjun di dunia dakwah. Doa saya kala itu dikabulkan oleh Allah SWT,” kenangnya, membuka percakapan denga SABILI di kediamannya, kawasan Bandung Timur.
Setelah menamatkan SR (1958 ), Imam Sonhaji mengikuti pengajian di masjid yang diasuh oleh KH Sarodji yang masih kerabatnya. Siang hari belajar di sekolah dan selepas maghrib menuntut ilmu agama. Di keluarga, orangtuanya mendidik islam dengan disiplin. Bahkan bila ada anak keluyuran saat maghrib, kala itu masyarakat membencinya. Tak hanya belajar dimasjid dekat tempat tinggalnya, Imam remaja pun masuk pesantren Rajasari dibawah pimpinan KH Harun. Letak pesantren itu kurang lebih 4km dari tempat tinggalnya. Kendati dekat, ia tetap mondok di pesantren.
Namun hal itu tak berlangsung lama. Beberapa waktu kemudian, ia meneruskan pendidikannya ke pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon. Ciwaringin adalah pondok pesantern tertua kedua setelah Buntet. Pembimbingnya adalah (Alm) KH Amin dan (Alm) KH Sanusi. Lantaran minatnya yang besar terhadap agama , Iapun menimba ilmu ke Pesantren Lirboyo, Kediri , Jawa Timur. Sampai tahun 1966, ia mengikuti pendidikan ibdaiyah dan Tsanawiyah Takhasus Diniyah.
Ketika di Lirboyo, ia tahu persis akar kejadian G 30 S/PKI. Sebelum kejadian itu, muncul kasus penyerobotan tanah, bentrok fisik serta puncaknya Peristiwa Kanigoro dimana PII (Pelajar Islam Indonesia ) di serang oleh pemuda rakyat. Kasus ini akhirnya di bawa ke pengadilan. Imam aktif di GP Anshor dan ikut dalam operasi guna menyelesaikan kasus itu. Kala itu secara organisasi, ia sudah aktif di IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama).
Tahun 1967, putra pasangan H Muhidin dan Hj Nuraenah ini kembali ke kampung halaman nya. Keaktifannya di NU sewaktu di pesantren Lirboyo, memacunya membentuk IPNU dan Banser di kecamatan Pagaden Baru, Kabupaten Subang. Setahun kemudian merasa ilmu agamanya masih kurang, ia menimba ilmu lagi di pesantren Sukamiskin, Bandung. Saat ia datang, sedang terjadi kevakuman di pesantren itu karena pimpinannya, KH Ahmad Dimyati, baru saja dipanggil Yang Maha Kuasa (1966). Sudah takdir Allah, di pesantren itulah ia menemukan jodoh yang tiada lain adalah putri dari almarhum kiai Dimyati. Dia berani menikahi Hj Maemunah Haida untuk melanjutkan keberadaan pesantern tersebut. Pada tahun itu juga ia dipercaya memimpin Ponpes Sukamiskin sampi sekarang.
Diantara kesibukannya mengurus pondok pesantren, KH Imam Sonhaji menyempatkan diri pula aktif berorganisasi di NU tingkat kecamatan. Sebelumnya, iapun aktif menjadi ketua MUI desa Cisarenten Kulon , yang di dalam nya tergaung tiga ormas islam besar. PSII, Parmusi dan NU. Selain itu iapun aktif sebagai ketua bidang Keagamaan Lembaga Swadaya Desa (LSD). Tahun 1971, ia sempat ditawari menjadi anggota DPRD Kabupaten Bandung dari NU, namun ditolaknya.”Kalau Kiai berkecimpung dalam politik prastis tentunya pesantren akan di tinggal dan lama-lama bisa bubar karena tak ada yang mengurus. Saya selalu memegang amanat yang di berikan sesuai visi dan misi perjuangan pesantren itu sendiri,” begitu alasan nya. Namun kepercayaan juga datang kepadanya. KH Sonhaji terpilih menjadi wakil ketua NU kabupaten Bandung. Ketua saat itu adalah KH Haedar dari Ciparay. Meski terjadi pemekaran Bandung (1981) dan wilayah Buah Batu masuk menjadi Kotamadya Bandung, namun ia tetap aktif di NU. Tahun 1990-an , kiai haji sonhaji diangkat menjadi Wakil Rois Syuriah NU Bandung. Ketuanya saat itu adalah KH Idad Anwar Musadad.
Di luar NU, ia pun dipercaya menjabat sebagai Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Bandung dan Jawa Barat (1996). Selama memimpin, ia Banyak memberdayakan santri dan para kiai. Salah satu program unggulannya adalah SARA (Santri Raksasa Desa). Siang hari, santri diwajibkan membantu masyarakat menangani persoalan sampah, air limbah, rumah kumuh, saluran air dan membuat jamban. Dimalam hari, para santri diharuskan berdakwah ke masjid-masjid.
Menyebut sosok KH Imam Sonhaji akan selalu terkait dengan Pondok Pesantren Sukamiskin. Pondok yang berlokasi dekat dengan LP Sukamiskin, Bandung ini merupakan pesantren tertua pertama yang ada di Jawa Barat. Pesantern ini didirikan pada tahun 1870 oleh KH Alko, yang masih keturunan pangeran Daud, Kampung Pulo, Jakarta. Ia adalah orang keempat yang memimpin pesantern itu.
Mengapa dinamai Pesantern Sukamiskin? Sukamiskin diambil dari kata “suk” yang berarti “pasar” dan kata “misik” berarti minyak kasturi yang harum. Artinya pesantren yang banyak dikunjungi orang seperti pasar, yang harum seperti minyak kasturi dengan ilmunya. Pada masa penjajahan jepang sempat mengebom pesantern ini. Beberapa sisi pondok hancur dan satu orang wakil ajengan meninggal dunia. Pesantern sukamiskin telah melahirkan banyak tokoh heroik, seperti KH Zaenal Mustofa (Tasik Malaya) yang gugur sebagai syuhada ketika melawan penjajah. KH Ahmad Dimyati sendiri ketika menuntut ilmu di Arab seangkatan dengan KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Halim (Majalengka) dan KH Sanusi Tantayan. Pesanteren Sukamiskin juga dikenal sebagai pesantren pertama yang mengubah sistem sorogan, bandungan dan balagan kepada sistem klasikal (madrasah) pada tahun 1912.
Di bawah kepemimpinan Imam Sonhaji, pesantern ini terus berjalan, bahkan kini melahirkan sekolah formal. Namun diakuinya jumlah santri tidak banya dulu yang sempat mencapai 2000-an. Saat ini, hanya tercatat seanyak 200 orang santri, sebab banyak berdiri pesantren di berbagai pelosok. Pesantren dapat terus berjalan dengan di biayai oleh peniggalan perusahaan yang dijalankan para kiai terdahulu dengan tidak menolak bantuan yang ditujukan untuk pesantren.
Ormas-ormas Islam di Bandung menyadari, kerisis yang terjadi akibat kerusakan akhlak dan banyaknya terjadi kemaksiatan dimana-mana, termasuk protitusi di lingkungan saritem, Bandung. Lalu semua menuntut tempat itu di tutup Pemerintah Bandung, tetapi kemudian muncul lagi. Maka dalam sebuah pertemuan di Plaza Balai Kota, KH Imam Sonhaji mengemukakan keinginanya untuk mendirikan pesantern di lokalisasi itu. Semua yang hadir tercengang. Dengan keyakinan akan dimudahkan Allah, ia menyanggupi menjadi pimpinan pesanteren di komplek pelacuran itu.
“Saya menyadari para Nabi dan Rasulullah, juga para Wali, diturunkan dan berdakwah di tenpat-tempat hitam yang banyak kemaksiatannya. Maka tak perlu pesimis ketika mendirikan pesanteren di lokasi itu. Kita hanya di wajibkan ber ikhtiar. Soal hasil serahkan saja pada Allah dan itu pun setelah di perjuangkan secara optimal,” terangnya optimis.
Pihak Pemkot akhirnya membebaskan sebuah rumah disana yang sering dipakai untuk berbuat maksiat. KH Imam Sonhaji lalu menyulapnya menjadi kamar santri, kamar ustadz dan ruang belajar. Pesanteren ini berdiri 2 Mei 2000. Pada awalnya di huni 50 orang santri yang diambil dari berbagai pesantren dan termasuk anak-anak dari keluarga tak mampu. Hasilnya dapat dirasakan. Setidaknya pesantren Daar Al-Taubah ini bisa nenjadi “ bebegig” (orang-orang di sawah, pen), yang berfungsi menakut nakuti. Paling tidak yang ingin berbuat maksiat malu melakukan perbuatan maksiatnya. Semakin lama pesantren itu semakin berkembang. Kini santrinya ada 90 orang yang menetap, 100 orang santri kalong (santri tidak menetap, pen), ada majelis taklim untuk ibu atau bapak, TK Islam dan ada pula masjid sebagai sarana ibadah.
“ Di sana (wilayah pesanteren) dakwah billisan saja tidak cukup, dakwah bil hal juga perlu di lakukan. Ini penting artinya bagi mereka yang justru awam terhadap agama. Harus diakui, di lokalisasi itu banyak yang masih kurangmemahami islam,” kata kiai Sonhaji.
Dalam soal pendidikan, KH Imam menyadari bahwa awalnya segala sesuatu harus dibangun dari diri sendirai dan keluarga. Ia sadar sebagai panutan harus bisa memberi tauladan kepada umat. Maka anak-anaknya di pesanternkan di berbagai tempat. Ada yang di Gontor, Lirboyo atau Cipasung. “ Hal ini semata-mata agar semua anak saya paham betul soal islam dan bisa melanjutkan perjuangan saya di kemudian hari,” harapnya.
Selama berdakwah, KH Sonhaji selalu mengutamakan kelembutan, terutama saat menyampaikan materi ceramahnya. Ia berusaha agar umat bisa menerima apa yang di sampaikannya dan bisa memahai islam secara benar. Bajkan ia mengatakan, Rasulullah SAW sendiri pernah di tegur Allah agar berdakwah dengan cara yang bijaksana.
KH Imam Sonhaji menyadari umat islam dikepung berbagai problema. Dia menyarankan agar kaum Muslimin kembali kepada islam dalam berbagai persoalan, sebab islam adalah petunjuk utama kehidupan. Ia pun mengajak seluruh umat bersatu membangun bangsa dan melepaskan diri dari keterpurukan yang terjadi.
Itulah KH Iman Sonhaji , sosok sederhana dan berkomitmen untuk berjuang di dunia dakwah sampai tuanya. Semoga apa yang telah dilakukannya bermanfaat bagi umat. Yang lebih penting dari itu, semoga sosoknya dapat diteladani siapa saja yang berjuang di jalur dakwah. Amiin…..!!!!

Sumber : majalah SABILI Edisi 11 th.XII 17 Desember 2004

Tidak ada komentar:

Posting Komentar