Kamis, 26 April 2012

Prinsip Historical Cost vs Fair Value

Historical cost jika dikaitkan dengan karakteristik kualitatif laporan keuangan, tingkat keterandalan (reliability) tinggi, namun keberpautan (relevance) rendah. Hal ini dikarenakan dasar dari pencatatan adalah bukti transaksi yang telah terjadi di masa lalu. Transaksinya sudah terjadi dan dapat dibuktikan, membuat keterandalan tinggi. Namun transaksi itu terjadi di masa lalu sehingga keberpautan rendah. Jika dilihat secara konseptual, akuntansi merupakan alat untuk ‘mengcapture‘ kejadian-kejadian ekonomik dalam suatu entitas dan melaporkannya dalam laporan keuangan. Sehingga dapat dikatakan bahwa akuntansi diciptakan sebagai alat pelaporan kejadian ekonomik historis. Jika dibandingkan dengan historical cost, fair value tingkat keterandalan lebih rendah namun keberpautan tinggi. Hal ini dikarenakan fair value tidak didasarkan pada keterjadian transaksi (transaksi belum terjadi) namun berdasar pada nilai perusahaan saat ini jika transaksi dilakukan (misalnya harga dalam jual beli mengikat, harga pasar aktif terkini, harga pasar sejenis, atau berdasar model perhitungan yang dijustifikasi oleh appraisal). Sehingga, karena transaksi tidak terjadi dan tidak ada bukti transaksi, fair value tingkat keterandalannya lebih rendah. Namun, fair value menunjukkan nilai terkini sehingga keberpautan tinggi. Fair value yang tidak berdasarkan pada transaksi yang terjadi, membuat patton & littleton menganggap bahwa fair value kurang pas jika dijadikan sebagai alat ukur dalam laporan keuangan utama. Namun, untuk menunjukkan seberapa bernilainya entitas saat ini, fair value dapat digunakan untuk melengkapi historical cost. Dalam IFRS, fair value untuk aset merupakan sebuah pilihan metode pengukuran selainhistorical cost. Untuk instrumen keuangan tertentu, fair value merupakan suatu keharusan. Hal ini dikarenakan fair value bertujuan untuk menunjukkan seberapa bernilainya aset/instrumen keuangan saat ini. Sehingga untuk instrumen keuangan yang tujuan dari penyajiannya lebih mengutamakan nilai jika saat ini dijual, atau pengguna laporan keuangan lebih membutuhkan informasi mengenai seberapa bernilainya instrumen keuangan tersebut, fair value lebih tepat untuk digunakan. IFRS memberikan pilihan pengukuran karena penggunaan fair value bisa jadi akan melanggar constraint cost-benefit bagi entitas, yang mana cost penyajian laporan keuangan harus lebih kecil dari benefitnya. Fair value yang keterandalannya rendah, akan membutuhkan lebih banyak justifikasi (misalnya penggunaan appraisal), sehingga costnya juga akan lebih tinggi. Pada praktiknya, entitas lebih banyak yang memilih tetap menggunakan historical costdaripada fair value. Jika dikatakan bahwa IFRS = fair presentation, maka hal ini jauh tepat. Penyajian wajar merupakan salah satu karakteristik kualitatif yang diutamakan dalam IFRS. Fair value atauhistorical cost dapat dipilih dan digunakan, asalkan mencerminkan konsep fair presentation.

Perkembangan Akuntansi

Perkembangan Akuntansi di Dunia 
 Perkembangan akuntansi sangat erat kaitannya dengan perkembangan dunia usaha. Akuntansi dimulai sejak manusia mengenal hitungan uang dan melakukan pencatatan hitungan itu. Pada pertengahan abad ke-14, pedagang-pedagang di Genoa sering membuat catatan harta yang dibawa sewaktu berangkat berlayar dan harta yang ada pada waktu akhir pelayarannya. Kemudian membandingkan hasilnya untuk menghitung laba atau rugi dari kegiatan perdagangannya. Akuntansi mulai dikenal sebagai suatu ilmu baru pada saat Lucas Paciolo mengarang buku yang berjudul Summa de Arithmetica, Geometrica, Proportioni et Proportionalita, dimana dalam buku itu ada beberapa bagian yang membahas tentang perhitungan keuagan bagi para pengusaha. Oleh karena itu, Lucas Paciolo dikenal sebagai Bapak Akuntansi. Pada akhir abad ke-15 peraan Romawi sebagai pusat perdagangan mulai berkurang dan berpindah ke negara-negara jalur perdagangan baru seperti Spanyol, Portugis, Belanda dan Inggris. Sedangkan pada abad ke-19 berkembang revolusi industri di daratan Eropa. Perubahan teknologi industri ini berdampak pula pada perkembangan ilmu akuntansi dan muncul konsep penyusutan/depresiasi (akan dijelaskan pada bab berikutnya). Penemuan benua Amerika menyebabkan para pengusaha Eropa berpindah ke Amerika. Dan pada akhir abad ke-19 berkembang perusahaan-perusahaan besar di Amerika. Hal tersebut turut pula mengembangkan konsep akuntansi. Dan pada tahun 1930 diadakan pembahasan untuk pertama kalinya antara New York Stock Exchange dengan American Institute of Certified Public Accountant untuk menetapkan prinsip-prinsip akuntansi. PERKEMBANGAN AKUNTANSI DI INDONESIA Praktik akuntansi di Indonesia dapat ditelusur pada era penjajahan Belanda sekitar 17 (ADB 2003) atau sekitar tahun 1642 (Soemarso 1995). Jejak yang jelas berkaitan dengan praktik akuntansi di Indonesia dapat ditemui pada tahun 1747, yaitu praktik pembukuan yang dilaksanakan Amphioen Sociteyt yang berkedudukan di Jakarta (Soemarso 1995). Pada era ini Belanda mengenalkan sistem pembukuan berpasangan (double-entry bookkeeping) sebagaimana yang dikembangkan oleh Luca Pacioli. Perusahaan VOC milik Belanda-yang merupakan organisasi komersial utama selama masa penjajahan-memainkan peranan penting dalam praktik bisnis di Indonesia selama era ini (Diga dan Yunus 1997). Kegiatan ekonomi pada masa penjajahan meningkat cepat selama tahun 1800an dan awal tahun 1900an. Hal ini ditandai dengan dihapuskannya tanam paksa sehingga pengusaha Belanda banyak yang menanmkan modalnya di Indonesia. Peningkatan kegiatan ekonomi mendorong munculnya permintaan akan tenaga akuntan dan juru buku yang terlatih. Akibatnya, fungsi auditing mulai dikenalkan di Indonesia pada tahun 1907 (Soemarso 1995). Peluang terhadap kebutuhan audit ini akhirnya diambil oleh akuntan Belanda dan Inggris yang masuk ke Indonesia untuk membantu kegiatan administrasi di perusahaan tekstil dan perusahaan manufaktur (Yunus 1990). Internal auditor yang pertama kali datang di Indonesia adalah J.W Labrijn-yang sudah berada di Indonesia pada tahun 1896 dan orang pertama yang melaksanakan pekerjaan audit (menyusun dan mengontrol pembukuan perusahaan) adalah Van Schagen yang dikirim ke Indonesia pada tahun 1907 (Soemarso 1995). Pengiriman Van Schagen merupakan titik tolak berdirinya Jawatan Akuntan Negara-Government Accountant Dienst yang terbentuk pada tahun 1915 (Soermarso 1995). Akuntan publik yang pertama adalah Frese & Hogeweg yang mendirikan kantor di Indonesia pada tahun 1918. Pendirian kantor ini diikuti kantor akuntan yang lain yaitu kantor akuntan H.Y.Voerens pada tahun 1920 dan pendirian Jawatan Akuntan Pajak-Belasting Accountant Dienst (Soemarso 1995). Pada era penjajahan, tidak ada orang Indonesia yang bekerja sebagai akuntan publik. Orang Indonesa pertama yang bekerja di bidang akuntansi adalah JD Massie, yang diangkat sebagai pemegang buku pada Jawatan Akuntan Pajak pada tanggal 21 September 1929 (Soemarso 1995). Kesempatan bagi akuntan lokal (Indonesia) mulai muncul pada tahun 1942-1945, dengan mundurnya Belanda dari Indonesia. Pada tahun 1947 hanya ada satu orang akuntan yang berbangsa Indonesia yaitu Prof. Dr. Abutari (Soermarso 1995). Praktik akuntansi model Belanda masih digunakan selama era setelah kemerdekaan (1950an). Pendidikan dan pelatihan akuntansi masih didominasi oleh sistem akuntansi model Belanda. Nasionalisasi atas perusahaan yang dimiliki Belanda dan pindahnya orang orang Belanda dari Indonesia pada tahun 1958 menyebabkan kelangkaan akuntan dan tenaga ahli (Diga dan Yunus 1997). Atas dasar nasionalisasi dan kelangkaan akuntan, Indonesia pada akhirnya berpaling ke praktik akuntansi model Amerika. Namun demikian, pada era ini praktik akuntansi model Amerika mampu berbaur dengan akuntansi model Belanda, terutama yang terjadi di lembaga pemerintah. Makin meningkatnya jumlah institusi pendidikan tinggi yang menawarkan pendidikan akuntansi-seperti pembukaan jurusan akuntansi di Universitas Indonesia 1952, Institute Ilmu Keuangan (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara-STAN) 1990, Univesitas Padjajaran 1961, Universitas Sumatera Utara 1962, Universitas Airlangga 1962 dan Universitas Gadjah Mada 1964 (Soermarso 1995)-telah mendorong pergantian praktik akuntansi model Belanda dengan model Amerika pada tahun 1960 (ADB 2003). Selanjutnya, pada tahun 1970 semua lembaga harus mengadopsi sistem akuntansi model Amerika (Diga dan Yunus 1997). Pada pertengahan tahun 1980an, sekelompok tehnokrat muncul dan memiliki kepedulian terhadap reformasi ekonomi dan akuntansi. Kelompok tersebut berusaha untuk menciptakan ekonomi yang lebih kompetitif dan lebih berorientasi pada pasar-dengan dukungan praktik akuntansi yang baik. Kebijakan kelompok tersebut memperoleh dukungan yang kuat dari investor asing dan ¬lembaga-lembaga internasional (Rosser 1999). Sebelum perbaikan pasar modal dan pengenalan reformasi akuntansi tahun 1980an dan awal 1990an, dalam praktik banyak ditemui perusahaan yang memiliki tiga jenis pembukuan-satu untuk menunjukkan gambaran sebenarnya dari perusahaan dan untuk dasar pengambilan keputusan; satu untuk menunjukkan hasil yang positif dengan maksud agar dapat digunakan untuk mengajukan pinjaman/kredit dari bank domestik dan asing; dan satu lagi yang menjukkan hasil negatif (rugi) untuk tujuan pajak (Kwik 1994). Pada awal tahun 1990an, tekanan untuk memperbaiki kualitas pelaporan keuangan muncul seiring dengan terjadinya berbagai skandal pelaporan keuangan yang dapat mempengaruhi kepercayaan dan perilaku investor. Skandal pertama adalah kasus Bank Duta (bank swasta yang dimiliki oleh tiga yayasan yang dikendalikan presiden Suharto). Bank Duta go public pada tahun 1990 tetapi gagal mengungkapkan kerugian yang jumlah besar (ADB 2003). Bank Duta juga tidak menginformasi semua informasi kepada Bapepam, auditornya atau underwriternya tentang masalah tersebut. Celakanya, auditor Bank Duta mengeluarkan opini wajar tanpa pengecualian. Kasus ini diikuti oleh kasus Plaza Indonesia Realty (pertengahan 1992) dan Barito Pacific Timber (1993). Rosser (1999) mengatakan bahwa bagi pemerintah Indonesia, kualitas pelaporan keuangan harus diperbaiki jika memang pemerintah menginginkan adanya transformasi pasar modal dari model “casino” menjadi model yang dapat memobilisasi aliran investasi jangka panjang. Berbagai skandal tersebut telah mendorong pemerintah dan badan berwenang untuk mengeluarkan kebijakan regulasi yang ketat berkaitan dengan pelaporan keuangan. Pertama, pada September 1994, pemerintah melalui IAI mengadopsi seperangkat standar akuntansi keuangan, yang dikenal dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Kedua, Pemerintah bekerja sama dengan Bank Dunia (World Bank) melaksanakan Proyek Pengembangan Akuntansi yang ditujukan untuk mengembangkan regulasi akuntansi dan melatih profesi akuntansi. Ketiga, pada tahun 1995, pemerintah membuat berbagai aturan berkaitan dengan akuntansi dalam Undang Undang Perseroan Terbatas. Keempat, pada tahun 1995 pemerintah memasukkan aspek akuntansi/pelaporan keuangan kedalam Undang-Undang Pasar Modal (Rosser 1999). Jatuhnya nilai rupiah pada tahun 1997-1998 makin meningkatkan tekanan pada pemerintah untuk memperbaiki kualitas pelaporan keuangan. Sampai awal 1998, kebangkrutan konglomarat, collapsenya sistem perbankan, meningkatnya inflasi dan pengangguran memaksa pemerintah bekerja sama dengan IMF dan melakukan negosiasi atas berbagaai paket penyelamat yang ditawarkan IMF. Pada waktu ini, kesalahan secara tidak langsung diarahkan pada buruknya praktik akuntansi dan rendahnya kualitas keterbukaan informasi (transparency). Berikut ini tabel ringkasan perkembangan akuntansi di Indonesia

Jumat, 23 Maret 2012

Akuntansi Internasional

A. Memahami sifat dan ruang lingkup akuntansi internasional (Understand the nature and scope of international accounting)

Jawaban :

Akuntansi Internasional adalah akuntansi untuk transaksi internasional, perbandingan prinsip akuntansi antarnegara yang berbeda dan harmonisasi berbagai standar akuntansi dalam bidang kewenangan pajak, auditing dan bidang akuntansi lainnya. Akuntansi harus berkembang agar mampu memberikan informasi yang diperlukan dalam pengambilan keputusan di perusahaan pada setiap perubahan lingkungan bisnis.

Akuntansi internasional mempunyai peranan yang sangat kompleks,dimana ruang lingkup pelaporannya ialah perusahaan multinasional dengan beroperasi dan transaksi lintas negara. Selain itu akuntansi internasional dapat di jelaskan pada tingkat yang berbeda :

Perbedaan-perbedaan dalam sifat dan cara-cara antara perdagangan internasional dengan perdagangan dalam negeri disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

1. Perbedaan negara, menyebabkan adanya perbedaan dalam hukum peraturan jual beli, uang, peraturan bea,

2. Perbedaan bangsa dan daerah, menyebabkan perbedaan dalam kebiasaan, adat istiadat, kesukaan, musim dan kondisi pasar.

3. Perbedaan yang disebabkan oleh keadaan politik, sosial, ekonomi dan kultural.

B. Menjelaskan isu-isu akuntansi yang diciptakan oleh perdagangan internasional (Describe accounting issues created by international trade)

Jawaban :

Komponen penting dalam proses pengendalian manajemen adalah audit internal. Internal audit harus:

· Memastikan kebijakan perusahaan dan prosedur yang diikuti.

· Mengungkap kesalahan, inefisiensi dan penipuan.

oAlpha

Ada beberapa isu yang membuat audit internal kegiatan operasi luar negeri lebih rumit dari audit domestik. Alpha Kendala yang paling jelas untuk melakukan audit internal yang efektif adalah bahasa. Auditor juga perlu menjadi akrab dengan budaya dan adat istiadat setempat, karena dapat mempengaruhi jumlah pekerjaan yang diperlukan dalam audit.Alpha Keakraban ini dapat membantu untuk menjelaskan beberapa perilaku yang ditemui dan mungkin dapat berguna dalam perencanaan audit. Fungsi penting lainnya dari auditor internal adalah untuk memastikan bahwa perusahaan sesuai dengan Foreign Corrupt Practices Act, yang melarang perusahaan AS dari membayar suap kepada pejabat pemerintah asing untuk mendapatkan bisnis. Auditor internal perlu memastikan bahwa kontrol internal di tempat untuk memberikan keyakinan memadai bahwa pembayaran ilegal tidak dibuat.Alpha

Auditor eksternal menghadapi masalah yang sama dengan auditor internal dalam menangani kegiatan usaha luar negeri dari klien mereka. Auditor eksternal dengan klien perusahaan multinasional harus memiliki keahlian dalam berbagai perangkat akuntansi keuangan aturan serta standar audit di berbagai yurisdiksi di mana klien mereka beroperasi.

Isu-isu akuntansi yang diciptakan oleh perdagangan internasional adalah di akuntansi itu sendiri mencakup beberapa proses yang luas: pengukuran, penguιngkapan,dan auditing.
1. Pengukurаn adalah proses mengidenlifikasikan, mengelompokkan, dan menghitung aktivitas ekonomi atau transaksi. Pengukuran ini memberikan masukan mendalam mengenai profitabilitasopensi suatu perusahaan dan kekuatan posisi keuangannya.
2. Pengungkapan adalah proses di mana pengiktisaran akuntansi dikomunikasikan kepada para pengguna yang diharapkan. Bidang ini memusatkan perhatian pada isu-isu seperti apa yang akan dilaporkan, kapan, dengan cara apa, dan kepada siapa.
3. Auditing adalah proses di mana kalangan protesional akuntansi khusus (auditor) melakukan atestasi (pengujian) terhadap keandalan proses pengukuran dan komunikasi. Apabila auditor internal adalah karyawan perusahaan yang bertanggung jawab kepada manajemen, maka auditor eksternal adalah pihak bukan karyawan yang bertanggung jawab untuk melakukan atestasi bahwa laporan keuangan perusahaan disusun menurut standar akuntansi yang berlaku umum.

C. Jelaskan alasan untuk, dan isu-isu akuntansi yang terkait dengan, investasi asing langsung (Explain reasons for, and accounting issues associated with, Foreign Direct Investment)

Jawaban :

Isu yang dapat dilihat dari investasi asing langsung adalah Faktor yang mungkin banyak menyumbangkan perhatian lebih terhadap akuntansi internasional di kalangan eksekutif perusahaan, investor, regulator pasar, pembuat standar akuntansi, dan para pendidik ilmu bisnis adalah internasionalisasi pasar modal seluruh dunia. Dimana Pricewaterhomms Coopers melaporkan bahwa volume penawaran ekuitas lintas batas dalam dolar meningkat hampir tiga kali lipat antara tahun 1995 dan 1999, dengan jumlah dana 1ebih dari sebesar 100 miliar yang diperoleh selama periode 5 tahun tersebut (penawaran ini hanya mencakup penjualan surat berharga di luar pasar domestik). Penawaran internasional atas obligasi, piujaman sindikasi, dan instrumen utang 1ainnya juga tumbuh secara dramatis selama tahun 1990-an. Tren ini kemudian memburuk selama tahun-tahun awal dekade
Akuntansi harus memberikan respons terhadap kebutuhan masyarakat akan informasi yang tentu berubah dan mencerminkrn kondmsi budaya, ekonomi, hukum,
sosial, dan politik yang ada dalam lingkungan operasinya. Sejarah akuntansi dan
para akuntan memperlihatkan perubahan secara terus-menerus.

Ada beberapa alasan untuk investasi asing langsung:

1.Meningkatkan Penjualan dan Keuntungan.
Penjualan internasional dapat menjadi sumber margin keuntunganyang lebih tinggi atau keuntungan tambahan melalui penjualan tambahan. Produk unik atau keunggulan teknologi dapat memberikan keunggulan komparatif bagi yang perusahaan ingin memanfaatkannya dengan memperluas penjualan di luar negeri.

2.Pertumbuhan pasar yang cepat.
Beberapa pasar internasional tumbuh lebih cepat dari yang lain. Investasi asing langsung merupakan sarana untuk memperoleh pijakan di pasar yang berkembang pesat atau muncul. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan penjualan dan keuntungan.

3.Mengurangi biaya
Sebuah perusahaan kadang-kadang dapat mengurangi biaya penyediaan barang dan jasa kepada pelanggan melalui investasi langsung asing. Signifikan lebih rendah biaya tenaga kerja dibeberapa negara memberikan kesempatan untuk mengurangi biaya produksi. Jika bahan dalam pasokan pendek atau harus dipindahkan jarak jauh, mungkin lebih murah untuk mencari produksi dekat dengan sumber mengimpor materials. Transportation biaya yang terkait dengan membuat penjualan ekspor ke pelanggan asing dapat dikurangi dengan menempatkan dekat dengan pelanggan produksi.

4.Melindungi Pasar Domestik
Untuk melemahkan pesaing internasional potensial dan melindungi pasar domestik, perusahaan mungkin memasuki pasar rumah pesaing. Alasannya adalah bahwa sebuah potensi pesaing kurang mungkin untuk memasuki pasar asing jika sibuk melindungi pasar domestiknya sendiri.

5.Melindungi Pasar Luar Negri
Tambahan investasi di luar negeri kadang-kadang termotivasi oleh kebutuhan untuk melindungi pasar yang dari pesaing lokal. Perusahaan menghasilkan penjualan melalui ekspor ke negara tertentu kadang-kadang merasa perlu untuk membangun kehadiran kuat di negara itu dari waktu ke waktu untuk melindungi pasar mereka.

6.Memperoleh Teknologi dan Manajerial.
Selain melakukan penelitian dan pengembangan di rumah, cara lain untuk memperoleh teknologi dan pengetahuan manajerial adalah untuk membuat sebuah operasi dekat untuk memimpin pesaing. Melalui kedekatan geografis, perusahaan akan lebih mudah untuk lebih dekat memantau dan belajar dari para pemimpin industri dan bahkan mempekerjakan karyawan yang berpengalaman dari persaingan

Minggu, 06 November 2011

Menumbuh Kembangkan Kesabaran dan Rasa Memiliki Terhadap Apa yang Telah Disepakati

Nama Kelompok :

Khoirul Azmi 20208708
Nur Fauzi 20208917
Rian Deno Rajani 21208397

Pembiayaan Perumahan Rakyat Belum Berhasil

 Latar belakang masalah :
Banyaknya penduduk Indonesia yang tinggal di ibukota membuat pemerintah memutar otak untuk mengurangi kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk di ibukota menyebabkan banyaknya bangunan liar di sepanjang Jakarta.. untuk itu , pemerintah pada tahun 2010 membuat program 1000 menara rumah susun untuk penduduk ibukota, terutama bagi perantau. Dimana program tersebut dilakukan agar masyarakat ibukota mendapat rumah murah. Namun, dalam pelaksanaanya hal tersebut tidak terjadi karena adanya oknum. Oknum tertentu yang menyalahgunakan program tersebut.

masalah :

 Kesimpulan :

Dari kasus tersebut, dapat disimpulkan bahwa program 1000 menara rumah susun yang di amanatkan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono belum berhasil. Hal ini disebabkan karena pada kenyataanya masih terganjal sejumlah persoalan. Persoalan tersebut antara lain masih tersandera kekurangan rumah hingga 13,6 juta unit, pembiayaan perumahan rakyat masih lamban dilapangan, banyaknya pengembang rumah susun bersubsidi yang menjual unit dengan harga lebih tinggi dari patokan pemerintah, pengembang juga pernah menghentikan pembangunan rumah sejahtera susun bersubsidi untuk masyarakat menengah bahwa di wilayah jabodetabek karena hambatan perizinan.

 Saran :
Dari kasus tersebut, hendaknya pemerintah, BUMN dan PEMDA menumbuh kembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah di sepakati sehingga penyelesaian 1000 menara rumah susun untuk rakyat dapat selesai dengan tepat waktu serta tidak adanya peenyelewengan yang dilakukan oleh oknum. Oknum tertentu, seperti halnya pengembang yang menjual unit dengan harga lebih tinggi dan patokan pemerintah. Selain pemerintah BUMN dan PEMDA, kementrian perumahan rakyat juga takut andil karena tanpa koordinasi dari kementrian perumahan rakyat maka penyelesaian 1000 menara rumah susun tidak dapat terselesaikan. Jika koordinasi antara semua pihak dengan menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah di sepakati oleh seua pihak maka akan terjalin ketentraman dan kenyamanan dalam pengerjaannya.

Senin, 31 Oktober 2011

Menumbuh Kembangkan Kesabaran dan Rasa Memiliki Terhadap Apa yang Telah Disepakati

Nama Kelompok :
Khoirul Azmi 20208708
Nur Fauzi 20208917
Rian Deno Rajani 21208397

I. PENDAHULUAN
I.1. LATAR BELAKANG

Pada kondisi saat ini, setiap pelaku bisnis jelas akan semakin berpacu dengan
waktu serta negara-negara lainnya, agar terwujudnya suatu tatanan perekonomian yang saling menguntungkan. Tentunya semua perusahaan harus sudah mengacu kepada implementasi GCG yang sudah bisa ditawar-tawar lagi, sehingga dapat dikatakan bahwa bisa atau tidak bisa yang pada akhirnya tetap berusaha dan bukan merupakan suatu kebutuhan. Selain itu, memang belum adanya sangsi yang tegas dari pihak regulaor dalam hal ini pemerintah yaitu jika bagi perusahaan yang tidak menerapkan GCG. Dibeberapa negara maju, GCG saat ini sudah dianggap sebagai
sauatu asset perusahaan yang sangat bermanfaat, misalnya GCG akan dapat meningkatkan nilai tambah bagi pemenang saham dan mempermudah akses ke pasar domestik maupun ke luar negeri (global) serta tidak kalah pentingnya dapat membawah citra perusahaan yang positif dari masyarakat

I.2. PENJELASAN TENTANG ETIKA BISNIS.
Secara sederhana yang dimaksud dengan etika bisnis adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industri dan juga masyarakat. Kesemuanya ini mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis secara adil , sesuai dengan hukum yang berlaku tidak tergantung pada kedudukan individu ataupun perusahaan di masyarakat.

Ingin diberkati adalah keinginan yang wajar, ingin menjadi berkat bagi orang lain adalah keingginan yang mulia. Menurut Peter Straub, kadang-kadang…. apayang harus engkau kerjakan adalah kembali ke awal dan melihat segalanya dalam sebuah cara pandang yang baru. Jim Collin (2001), implementasi konsep membuat perusahaan menjadi perusahaan yang Good to Great. Dimana kriteria perusahaan agar bisa dipilih sebagai perusahaan yang Good to Great adalah seperti berikut :

(1). Perusahaan menunjukkan pola kinerja baik yang ditemukan titik transisi menuju ke kinerja hebat. Kinerja hebat di definisikan sebagai kumunikasi total hasil saham paling sedikit 3 kali dari pencapaian pasar secara umum, mulai dari titik transisi (T) dalam 15 tahun kemudia Sedangkan kinerja baik hanya menghasilkan 1.25 kali dari pencapaian pasar secara umum selama 15 tahun sebelum titik transisi (T-15). Rasio antara kumulatif hasil saham padaT+15dan T-15 harus lebih dari 3.

(2). Pola kerja kinerja Good to Great harus merupakan upaya pergeseran perusahaan (company ) itu sendiri bukan karena kecenderungan industri (industry event). Dengan kata lain,perusahaan harus menunjukkan pola tidak hanya relatif terhadap pasar, tetapi juga terhadap industrinya.
(3).Perusahaan adalah perushaan yang sudah cukup lama beroperasi setidaknya 25 tahun
sebelum titik transisi, dan merupakan perusahaan terbuka setidaknya dalam 10 tahun.
(4). Titik transisi sudah terjadi pada tahun 1985, dan tahun 2000 adalah tahun
analisis.
(5) Perusahaan sudah masuk dalam daftar peringkat FORTUNE 500 pada tahun 1995 yang
diterbitkan tahun 1996.
(6) Perusahaan masih menunjukkan kecenderungan naik dengan kemiringan hasil saham
kumulatif relatif terhadap pasar pada titik awal transisi harus sama lebih
baik dari 3/1 yang dipersyaratkan untuk memenuhi kriteria 1 pada fase T+15. Ini
berlaku untuk T+15 yang jatuh sebelum tahun 1996. Dari keenam kriteria tersebut
tadi masih dilakukan seleksi dalam 4 tahap yaitu: Tahap pertama menghasilkan
1.435 perusahaan dari seluruh FORTUNE 500(1965-1995) Tahap kedua tersaring 126
perusahaan Tahap ketiga menjaring 19 perusahaaan yang tersisa, dan Tahap keempat
menghasilkan 11 perusahaan yang berkriteria Good to Great ”the man behind the
gun”. Bila pimpinan puncak tidak memiliki unsur BMF, maka perusahaan itu tidak
mungkin menjadi perusahaan yang berlandaskan spriritual (spiritual company).




Contoh Kasus Sebagai Pelaku Bisnis

Pada tahun 1990 an, kasus yang masih mudah diingat yaitu Enron. Bahwa Enron adalah perusahaan yang sangat bagus dan pada saat itu perusahaan dapat menikmati booming industri energi dan saat itulah Enron sukses memasok enegrgi ke pangsa pasar yang bergitu besar dan memiliki jaringan yang luar biasa luas. Enron bahkan berhasil menyinergikan jalur transmisi energinya untuk jalur teknologi informasi. Dan data yang ada dari skilus bisnisnya, Enron memiliki profitabilitas yang cukup menggiurkan. Seiring dengan booming indutri energi, akhirnya memosisikan dirinya sebagai energy merchants dan bahkan Enron disebut sebagai ”spark spead” Cerita pada awalnya adalah anggota pasar yang baik, mengikuti peraturan yang ada dipasar dengan sebagaimana mestinya. Pada akhirnya Enron meninggalkan prestasi dan reputasinya baik tersebut, karena melakukan penipuan dan penyesatan.. Sebagai perusahaan Amerika terbesar ke delapan, Enron kemudian kolaps pada tahun 2001.

I.5. TUJUAN PEMBAHASAN.
Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk :
1. Penerapakan peranan etika bisinis dalam implementasi sebagai good corporat
governance
2. Penerapakan membangun “built to bless” dalam implementasi sebagai good corporate
governance



II. PEMBAHASAN

Berbisnis dengan etika dan atau etika berbisnis, sebenarnya keberadaan etika
bisnis tidak hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sederhana atau ”remeh” atau, “ Bisakah kita melakukan etika berbisnis/ tidak melanggar hukum untuk meningkatkan kinerja divisi kita ?” jawabannya “pasti bisa” Jurnal Business and Society Review (1999), menulis bahwa 300 perusahaan besar yang terbukti melakukan komitmen dengan publik yang berlandaskan pada kode etik akan meningkatkan market value added sampai dua-tiga kali dari pada perusahaan lain yang tidak melakukan hal serupa. Bukti lain, seperti riset yang dilakukan oleh DePaul University (1997), menemukan bahwa perusahaan yang merumuskan komitmen korporat mereka dalam menjalankan prinsip-prinsip etika memiliki kinerja finansial (berdasarkan penjualan tahunan/revenue) yang lebih bagus dari perusahaan lain yang tidak melakukan hal serupa. Sebuah studi selama 2 tahun yang dilakukan The Performance Group, sebuah konsorium yang terdiri dari Volvo, Unilever, Monsato, Imperial Chemical Industires, Deutsche Bank, Electolux, dan Gerling, menemukan bahwa pengembangan produk yang ramah lingkungan dan peningkatan environmental compliance bisa menaikkan EPS (earning per share) perusahaan, mendobrak profitability, dan menjamin kemudahan dalam mendapatkan kontrak atau persetujuan investasi.

II.1. PERANAN ETIKA BISNIS DALAM PENERAPAN GCG
(1). Nilai Etika Perusahaan ( Company Ethics Value)
Kepatuhan pada kode etik ini merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan dan memajukan reputasi perusahaan sebagai karyawan dan para pimpinan perusahaan yang bertanggung jawab, dimana pada akhirnya akan memaksimalkan nilai pemegang saham. Beberapa nilai-nilai etika perusahaan yang sesuai dengan prinsip-prinsip GCG, yaitu kejujuran, tanggung jawab, saling percaya, keterbukaan dan kerja sama. Sebagai contoh yang sering kita ketahui yaitu kode etik yang harus dipatuhi oleh seluruh karyawan dan pimpinan perusahaan, antara lain masalah informasi rahasia dan bentuan kepentingan.

(2). Code of Corporate and Business Conduct
Kode etik dalam tingkah laku berbisnis di perusahaan (code of corporate and business conduct) merupakan implementasi salah satu prinsip Good Corporate Governance (GCG). Kode etik tersebut menuntut karyawan & pimpinan perusahaan untuk melakukan prakter-praktek etik bisnis yang terbaik di dalam semua hal yang dialakukan atas nama peusahaan. Dengan tujuan agar prinsip etika bisnis menjadi budaya perusahaan (corporate culture), maka seluruh karyawan dan para pimpinan perusahaan akan berusaha memahami dan berusaha mematuhi “mana yang boleh” dan mana yang tidak boleh dilakukan dalam aktivitas bisnis perusahaan. Pelanggaran atas kode etik merupakan hal yang serius, bahkan dapat termasuk kategori pelanggaran hokum.
Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain adalah:
1. Pengendalian diri
2. Pengembangan tanggung jawab social (social responsibility)
3. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi
4. Menciptakan persaingan yang sehat
5. Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan”
6. Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi, dan Komisi)
7. Mampu menyatakan yang benar itu benar
8. Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha ke bawah
9. Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama
10. Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati
11. Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hokum positif yang berupa peraturan perundang-undangan

Contoh :
Di Indonesia dengan Topik : The Challenges of Legal Profession in The Corrupt Society (Gayus Lumbuun, 2008), yang memaparkan (1) penegakan hokum pembrantas korupsi, (2) substansi/norma hukum kebijakan pemberantas KKN, (3)kelembagaan/ struktur hukum pemberantas KKN, (4) budaya hukum (legal culture dalam kebijakan pemberantas KKN. Dari keempat unsur hukum tersebut, maka unsure ketiga dari sistem hukum yang sangat berpengaruh dalam implementasi UU tentang tindak pidana korupsi adalah masalah budaya hukum yang terkait dengan pemberantas KKN. Budaya hukum disini dapat dikelompokkan kedalam 2 hal yaitu:
budaya yang menyimpang dan buadya sebagai karekter entitas. Budaya hukum yang menyimpang inilah yang sebenarnya masih dapat diperbaiki. Bebarapa bagian penting yang terkait dengan budaya hukum ini adalah mengenai sebab-sebab dan pelaku korupsi, serta dukungan masyarakat dalam pemberantas KKN, dan strategi umum yang dapat dilakukan dalam pemberantas KKN.


II.2. MEMBANGUN ETIKA BISNIS DAN BISNIS YANG BERETIKA
Etika di dalam bisnis sudah tentu harus disepakati oleh orang-orang yang
berada dalam kelompok bisnis serta kelompok yang terkait lainnya. Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain :
(1). Pengendalian diri./ kejujuran.
(2). Social Responsibility
(3). Memiliki prinsip / mempertahankan jati diri.
(4). Menciptakan persaingan yang sehat.
(5). Menerapkan konsep yang berksinambungan.




II.3. MEMBANGUN “ BUILT TO BLESS”DALAM PENERAPAN GCG.

(1). Moralitas Kerja dalam Bentuk Etika Bisnis dan Etika Kerja
Moralitas ini merupakan landasan berbisnis dengan etika yang baik. Etika bisnis dan etika kerja adalah dua hal utama yang terus dipertahankan sebagai cara kerja dalam mencapai tujuannya. Keduanya merupakan standar yang diyakini tentang baik buruk dalam pengelolaan usaha (a defined standard of right or wrong what some one often said). Bukan hanya memiliki dokumen yang tertulis di kertas tapi terpatri dalam hati. Seluruh jajaran mengahayati dan mengamalkan karena karena percaya bukan paksaan atau bagian dari deskripsi pekerjaan dan proses. Moralitas yang setidaknya mencakup pedoman etika bisnis dan etika kerja ini secara tertulis dijabarkan dan dikomunikasikan secara terus menerus. Pimpinan perusahaan menjadi pemegang kunci pelaksanaan yang senantiasa dilihat oleh seluruh pekerja. Dalam keadaan krisis tidak terbatas pada target penjualan dan yang tidak tercapao, tetapi bahkan sampai keberadaan bisnis sekalipun, pimpinan dan organisasi yang memiliki kinerja emosional dan etikal yang tinggi akan terus berupaya mempertahankannya tanpa kompromi. Etika bisnis mencakup bagaimana menata hubungan yang etis perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan seperti hubungan perusahaan dan seluruh pemasok, pelanggan, karyawan, masyarakat sekitar, lingkungan, dan pemerintah. Sedangkan etika kerja mengatur hubungan antara pekerja dan sesama pekerja, pekerja dengan atasan, pekerja dengan pimpinan perusahaan, perusahaan dengan pemangku kepentingan lainnya. Nilai pekerja harus dihayati dan dipratikkan dan pekerjaan sehari-hari. Bukan hanya sekadar menyelesaikan pekerjaan juga cara melakukan pekerjaan (how to do not only what to do). Bebarapa perusahaan yang mendapat penghargaan sebagai perusahaan yang beretika bisnis tinggi dalam 16th Annual Business Ecthic Awards 2004 adalah sebagai berikut:
a.Gap Inc, mendapat Social reporting Award. Gap melporkan kinerja dan ketaatan 3.000 pabrik pemsok di 50 negara terhdap aturan yang tela ditetapkan.
b.Chroma Technology Corp. Meraih Living Economy Award, perusahaan yang menerapkan konsep kepemilikan karyawan, kebijakan upah yang pantas.
c.Dell Inc, memperoleh Environmental Progress Award, menawarkan jasalayanan gratis untuk mendaur ulang komputer yang eprnah dipakai perusahaan pada setiap pembelian komputer baru.
d.Cliff Car Inc, menyabet General Excellence Award atas komitmennya dan konsisten terhadap pelestarian lingkungan.
e.King Arthur Flour, mencapai Social Legacy Award, kerena menyerahkan kepemilikan saham perusahaan 100 persen.

(2). Kinerja Spiritual melahirkan perusahaan yang Built to Bless
Dalam hasil pengamatan saya selanjutnya, kedua kinerja tersebut belumkah seluruhnya mencerminkan kesuksesan menyeluruh dalam perusahaan. Ada factor ketiga yang patut menjadi bahan renungan setiap pimpinan dan pemegang saham yakni Kinerja Spiritual. Ini selaras dengan kecerdasan manusia yang memiliki tiga cakupan yakni Intelektual, Emosional, dan Spriritual. Kecerdasan Spiritual yang dimiliki pimpinan dan manusia ada dalam perusahaan akan menjadi peusahaan untuk memiliki Kinerja Spiritual.terjadi, maka akan ada padanan yang serasi antara manusia sebagai subjek dan organisasi sebagai ranah subjek. Salah satu aspek yang sangat penting dalam membawa perusahaan menjadi perusahaan BERKAT (A Built to Bless-Blessing Company) adalah memperdalam dan memperindah (depth and beauty) landasan berbisnis yang berada di atas etika dan moral standar yakni unsur spiritualitas yang bersumber pada tata nilai keimanan yang disebut keyakinan (belief). Etika dan moral hanya berlandasan pengertian baik-buruk dan benar-salah dengan penerapan Good Corporate Governance (GCG). Perusahaan yang Built to Bless, sudah menyentuh aspek yang saya sebut sebagai sisi spiritual yang bersumber kepada Tuhan (God) yang akhirnya menelurkan prinsip baru yang banyak dikenal sebagai God Corporate Governance (GODCG). Oleh karena itu, landasan dari moral, etika, falsafah perusahaan yang akan langgeng karena memiliki sifat transendensi harus berakar pada landasan spiritual sebagai sumber segala kebijakan. Saya yakin, semua Kitab Suci dari semua agama mengajarkan landasan spiritual yang jauh lebih dalam dari landasan mental dan moral. Untuk pedoman berperilaku khususnya dalam dunia bisnis, tidak ada dogmatika yang sangat berbeda.



III. KESIMPULAN DAN SARAN

1. KESIMPULAN.

1.Etika bisnis memegang peranan sangat penting dalam rangka implemetasi GCG. Sedangkan Code of Corporate and Business Conduct merupakan pedoman bagi seluruh karyawan dan para pimpinan perusahaan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari Dan agar mudah disosialisakan kemua karyawan tanpa memandang level jabatan, maka dibuatkan beberapa sepanduk (slogan) dipasanga di tempattempat strategis dilingkungan perusahaan.
2.Gerakan moral : bersih, transparan dan profesional mengandung mengandung nilai moral dan prinsip-prinsip dasar dari GCG yang bersifat universal.
3.Implementasi GCG di perusahaan, harus dijunjung tinggi, karena kemajuanperusahaan, kepercayaan pelanggan, dan profit yang terus meningkat, pangsa pasar terus meluas, merupakan cita-cita bagi setiap perusahaan.
4.Diperlukan integrasi moral yang tinggi dari para Aparat penegak hukum yangmenangani perkara korupsi dan jangan memberikan contoh yang kurang baik,jangan membuat masyarakat tidak lagi percaya terhadap Aparat Penegak Hukum ( Undang-undang No. 20 tahun 2001) tentang Pemberantasn Tindak Pidana Korupsi.
5.Gunakan kriteria bagi perusahaan Built to bless yaitu ada Lima Fase PerubahanPerusahaan dengan Kinerja Spiritual yang tinggi : fase “ BURUK (Bad) MAPAN (Establishes)”, HEBAT (Good to Great)”, “ LANGGENG ( Built to Last) dan BERKAT (Built to Bless = BLESSING)





2. SARAN
1.Untuk implementasi GCG, selain faktor individu, maka tidak kalah pentingnya suatu perusahaan harus mempunyai sistem, SOP (Standard Operation Procedure) pada setiap item pekerjaan.
2.Dari aspek agama , perlunya menekankan kaidah atau norma-norma ajaranagama agar umatnya sensitif dalam menyikapi “ mana yang benar” atau “mana yang tidak benar” dan apa sangsinya jika kita selalu menabrak yang terkait dengan norma-norma agama. Dan sabagai bukti para penghuni Lapas , beberapa tokoh agama ( orang yang mempunyai pemahaman agama yang cukup baik ) ternyata sebagai penghuninya.
3.Karena implementasi GCG sangat dominan ketika para pimpinan perusahaan betul-betul mensuport, memberikan teladan, dan mempunyai komitmen yang kuat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
4.Aparat penegak hukum, harus berani memberikan keyakinan bahwa korupsi bisa diberantas, namun kenyataan banyak para pejabat, profesi dan orang yang mempunyai latar belakang ilmu hukum, ternyata melakukan pelanggaran hukum, hal ini akan berpotensi membuat masyarakat tidak yakin kalau namanya korupsi bisa diberantas.





IV. DAFTAR PUSTAKA

I.Bambang Paulus, 2007, Built to Bless, PT Elex Media Kumputindo, Jakarta Buchholtz and B. Rosenthal, 2002, Business Ethics, Upper Saddle River, N,J Printece Hall.
II.Gayus Lumbuun, 2008, The Challenges of Legal Profession in The Corrupt Sociaety.
III. Indriyanto Seno Adji, 2007, Korupsi Kebijakan Aparatur Negara dan Hukum Pidana, CV Diadit Media , Jakarta.
IVJim Collins, 2001, Good to Great, Why Some Companies make the Leap and Others Don’t Harper Business, An Imprint of Harper Collin, Published.
V.R.Sims, 2003, Ethics and Corporate Social Responsibility-Why Giants Fall, C.T: Greenwood Press.
VI.Tjager, I Nyoman, 2003, Corporate Govermance : Tantangan dan Kesempatan bagi Komunitas Bisnis Indonesia, PT .Prenhallindo, Jakarta Undang-undang No. 20, 2001, Pemberantasan Tindak Pindana Korupsi.

Senin, 03 Oktober 2011

Tugas Softskill

Nama Kelompok: Khoirul Azmi (20208708), Nur Fauzi(20208917, Rian Deno Rajani (21208397)

Sumber : Kompas 20 September 2011
1. Tanggung jawab profersi
Karena adanya banyak pengaduan pelanggaran kode etik dalam proses penganggaran di badan penganggaran maka BK DPR menyelidiki badan penganggaran. Badan penganggaran tetap di periksa karena ada kemungkinan kasus pelanggaran yang berkembag. Anggota badan anggaran terbukti bersalah dengan alas an 21 temuan transaksi sehingga anggota badan anggaran disini melanggar kode etik pertama yaitu tanggung jawab profersi.
2. Kepentingan Publik
Dengan adanya temuan tersebut anggota badan anggaran tidak menunjukkan komitmen atas profesionalisme dan tidak menghormati kepercayaan public sehingga anggota badan anggaran melanggar kode etik kedua yaitu kepentingan public
3. Integritas
Anggota badan pengaggaran harus memiliki integritas setinggi mungkin untuk memenuhi tanggung jawab profesionalnya. Dengan adanya kasus 21 transaksi yang tidak wajar didalam badan anggaran maka menunjukkan bahwa badan anggaran tidak memiliki integritas yang tinggi, ini menunjukkan anggota badan anggaran melanggar kode etik yang ketiga yaitu integritas.
4. Obyektivitas
Anggota badan penganggaran harus men menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya. Dalam kasus ini, anggota badan anggaran Wa Ode Nurhayati melanggar koe etik yang keempat yaitu obyektivitas dengan dia berprasangka bahwa dia sedang di incar oleh colegannya padahal sebagai anggota badan penganggaran dia harus obyektiv, tidak berprasangka.
5. Kompetensi dan kehati-hatian professional
Dalam kasus ini menunjukkan bahwa anggota badan anggaran tidak memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan kompetensi dan ketekunan demi kepentingan pengguna jasa dan kepada public. Jika anggota badan anggaran mempunyai kompetensi dan kehati-hatian professional maka anggota badan anggaran tidak akan tersandung kasus ini.

Jumat, 15 April 2011

DIFFERENCE TOEIC and TOEFL

DIFFERENCE TOEIC n TOEFL
What is the TOEIC test?
"TOEIC" stands for Test of Home for International Communication. TOEIC test is an English proficiency test for people who native language is not English. TOEIC test scores indicate how well people can communicate in English with others in the global work environment. The test requires no specialized knowledge or vocabulary, these tests only measure the kind of English used in everyday activities.
TOEIC test is a proficiency test in English that's leading the world in the context of the global work environment. More than 4,000 companies around the world use the TOEIC test, and more than 2 million people registered to take this test every year.
Like what format TOEIC ® test?
TOEIC test is a test of multiple choice, paper and pencil for two hours which consists of 200 questions divided into two parts separate times:
• Part I: Listening Comprehension
This section consists of 100 questions and is divided into four sections. Test participants heard a recording of statements, questions, short conversations, and a brief explanation, then answer questions based on segments of hearing. The Listening section takes approximately 45 minutes.
Part 1: Photographs
Part 2: Questions and Response
Part 3: Short Conversations
Part 4: Short Talks 20 items (4 - choice)
30 items (3-choice)
30 items (4-choice)
20 items (4-choice)
• Part II: Reading
The Reading section consists of 100 questions presented in written format in the test booklet. Participants read various materials and answer questions based on their own pace according to the reading material itself. Entire sections requires 75 minutes reading.
Part 5: Incomplete Sentences 40 items (4-choice)
Part 6: Error Recognition 20 items (4-choice)
Part 7: Reading Comprehension 40 items (4-choice)
Participants answered questions by marking one of the letters (A), (B), (C), (D) with a pencil on the answer to a separate valley. Although the actual testing time is approximately two hours of extra time it takes participants to complete the biographical questions on the answer sheet and respond to a brief questionnaire about their education and work history.
What are the contents of the TOEIC test?
TOEIC test is designed to meet the needs of the working world. Test questions are developed from examples of spoken and written language collected from various countries around the world where English is used in the workplace. Test questions and the atmosphere contains many different situations, such as:
• General business - contracts, negotiations, marketing, sales, business planning, conferences.
• Manufacturing - plant management, assembly lines, pengandalian quality.
• Finance and budgeting - banking, investment, taxation, accounting, billing
• Corporate development - research, product development.
• Offices - board meetings, committees, correspondence, memoranda, telephone, fax, and messages e-mail, equipment and office furniture, office procedures.
• Personnel - receiving, hiring, pension, salaries, promotions, job applications, advertising.
• Purchasing - shopping, ordering supplies, deliveries, invoices
• Technical areas - electronics, technology, specifications, buying and renting, electric and gas service.
• Travel - trains, planes, taxis, buses, ships, ferries, tickets, schedules, announcements stations and airports, car rental, hotel, reservations, delays and delays.
• Dining out - business and informal lunches, banquets, receptions, restaurant reservations.
• Entertainment - cinema, theater, music, art, media
• Health-medical insurance, visiting doctors, dentists, clinics and hospitals.
A prospective regular employees must have a minimum TOEIC score of 400. While a prospective manager should at least have a TOEIC score of 800.
Someone who has a TOEIC score 405-600, for example, in listening to be able to understand explanations related to routine daily tasks, understand the announcements during the trip and mengusai limited social conversations. In this talk could explain kerj responsibility adan academic background as well as a discussion about the project in the past and the future. While in the case of reading still need a dictionary to understand the technical documents. And lastly in terms of writing people who have intermediate level was able to write a short memo, letter of complaint and fill out a simple application form.
TOEFL
TOEFL stands for Test of Home as a Foreign Language. This is a test of English as a foreign language. These tests test the ability of a person to the extent to which mastery of English that includes the ability: Listening Comprehension (Comprehension in listening), Structure and Written Exxpression (Structure and expression in writing relating to the Home Grammar or Grammar English (Reading Comprehension (Reading Comprehension), and Writing (Writing).
TOEFL, GRE, SAT and TOEIC is a test products issued by ETS (Educational Testing Service) based in the U.S. and has been operating for more than 40 years.
During this time English language proficiency test product of ETS are most popular in Indonesia is the TOEFL (Test of Home As Foreign Language). However, the TOEFL test is actually designed for academic purposes which is for anyone who wants to continue their studies to the U.S. and North America. During this time, the company in Indonesia, too, put the score TOEFL as employee recruitment requirements.
The use TOEFL scores to the world of work turned out to be less effective. Therefore, there followed a trend of companies that intend to recruit employees to move to the TOEIC (Test of Home for International Communication). ETS TOEIC has been held for 25 years throughout the world. "In Indonesia, the TOEIC test was introduced in 1999," kataJulivan E. Rondonuwu of PT International Test Center, ETS representative in Indonesia.
Benefits of the TOEFL
TOEFL is Bahassa bahasa fluency assessments received by Lebihh than 6,000 institutions. You might think that this is in America / bahasa Kingdom, they actually spread in all the world in 110 countries. Nearly every university in the English-speaking countries like the United States, Britain, Australia, Canada, & New Zealand, use the TOEFL to determine whether the point / non-language speakers of English can be accepted on their programs, receiving scholarships, / enter graduate school .
Another benefit of the TOEFL test proficiency Attas yangg bahasa Another is the fact that there Lebihh than 4,000 testing centers you can use. If you travel, you will save money because the test and can be completed within days.
Finally, this test gives you a benchmark bias your ability to speak bahasa. Score test anonymously, and there are interviews yangg entered as of the process. If you know Bahassa bahasa together well, you'll score with the good, and simple. TOEFL is to benchmark the best of your ability to succeed in college English Software
The ability of any tested in TOEFL test?
There are three parts of the TOEFL test to be done by test participants. The first part is the questions that measure the ability of Listening Comprehension in the number of 50 questions, Structure & Written Expression, 40 questions, and Reading Comprehension, 50 questions. The entire matter was made in the form of multiple choice (except for the Computer Based TOEFL test is a matter of the essay writing ability of participants in English and other variations to match the form of questions such as, to highlight certain words in connection with the main idea of a reading, etc..). The entire test takes place in time approximately 150 minutes, for the Paper and Pencil Based TOEFL, and approximately 240 minutes for the Computer Based TOEFL. A relatively long time for the Computer Based TOEFL tutorials are included procedures.
How many kinds of TOEFL test?
There are two types of TOEFL tests, ie
1) Paper and Pencil-Based TOEFL, and
2) Computer-Based TOEFL.
Type the first TOEFL test is the TOEFL test that we know so far, where both questions and answers done by using paper and pencil. While the second type of TOEFL test is a relatively new test model because it was first introduced in 1998. As stated in its name, this test uses a computer in the delivery of and participant test because these tests also will answer via the computer.
In addition to the above two types of tests, whether there are other types of TOEFL test?
For the purposes of pre-selection or internal use of an institution, then the ETS as a developer and provider agency also conducts TOEFL TOEFL ITP (ITP = Institutional Testing Programme). The number of questions and level of difficulty did not differ with ITP TOEFL Paper and Pencil-Based TOEFL and the Computer Based TOEFL, because the questions used in the TOEFL ITP TOEFL test is a matter that has been used before. Differences that need to be known by those who plan to follow the TOEFL test is that the score obtained dariTOEFL ITP in its use is limited. Universities and colleges in America, for example, will only accept scores from the TOEFL Paper and Pencil-Based or Computer Based TOEFL. Another difference is in terms of test cost. Currently, the cost of Paper and Pencil-Based TOEFL and the Computer Based TOEFL is U.S. $ 110, while the TOEFL ITP is relatively cheaper cost of U.S. $ 25. There should also note that the Paper and Pencil-Based TOEFL and the Computer Based TOEFL Test Center is only held in particular with the schedule of tests that have been determined in advance, while the TOEFL ITP implementation is more flexible schedule and in Indonesia is conducted by the IIEF (The Indonesian International Education Foundation) with coordinate with the central language in public universities.
In addition to TOEFL ITP, there is also a TOEFL Prediction / Equivalent Test that is usually used to estimate the TOEFL score before the relevant person take another TOEFL test (TOEFL Paper and Pencil-Based, Computer Based TOEFL, TOEFL ITP). Type Prediction TOEFL test is generally conducted by the institute / center language or places that hold training courses TOEFL.
Is there a difference in the scoring system based TOEFL Paper and Pencil, Computer Based TOEFL, ITP TOEFL and TOEFL Prediction Test?
True, rating or scoring system used for the Paper and Pencil BasedTOEFL, TOEFL ITP, TOEFL Prediction Test and Computer Based TOEFLmemang different.
This is done of course with the intention to avoid misunderstandings in the interpretation of test scores reported by participants. The range of scores used by the Paper and Pencil-Based TOEFL, TOEFL ITP, danTOEFL Prediction Test is 310 (lowest score) up to 677 (highest score), whereas for the Computer Based TOEFL, the lowest value is 0 and the highest value of 300 (TOEFL Score User Guide, 2000-2001). About the overall level of difficulty for this type of course the same test, so it can be said those who obtain a score of 677 on the TOEFL Paper and Pencil Based expected to obtain a score of 300 on Computer Based TOEFL, and vice versa if a participant obtained a score of 213 tests in the TOEFL test that uses computer (Computer Based TOEFL), the corresponding score on the Paper and Pencil-Based TOEFL is 550.
How is the relationship of scores obtained by the level of one's mastery of English?
In general, we recognize three levels of mastery of foreign languages, namely Basic Level (Elementary), Intermediate Level (Intermediate) and Advanced (Advanced). TOEFL score, experts typically classify the language of this score into the following four levels (Carson, et al., 1990):
• Elementary Level (Elementary): 310 sd 420
• Lower Secondary Level (Low Intermediate): 420 sd 480
• Secondary Level (High Intermediate): 480 sd 520
• Advanced (Advanced): 525 sd 677
From the classification score above, may arise if the test questions TOEFLdiberikan on American students, for example, whether they will have difficulty working on the TOEFL questions? Studies conducted by Johnson (1977) mentions that the average scores obtained by 173 first and second year students at the University of Tennessee, United States, is 628. That is, for English speakers themselves, the questions TOEFL can be done easily, as evidenced from which they obtained a score at the level of Proficient or Advanced.
By knowing the classification level of mastery of English, as seen above, we can certainly understand why it seems reasonable that universities in countries that use English as its official language, requires a certain TOEFL score for the candidate of their international students. To be accepted in S1, they commonly set score is approximately 475 sd 550, while for S2 and S3 program entry requirements TOEFLnya higher score is around 550 till 600.
Questions are often raised in discussion forums English teachers in Indonesia is what should be the mastery of English a student in Indonesia so they can add to scientific knowledge through reading, written in English? Mastery at the level of Primary (Elementary) would not contribute significantly to the students in Indonesia in terms of efforts to increase knowledge through textbooks / written knowledge in English. Required minimum mastery level of Senior Secondary (High Intermediate) so the students can absorb the course material is written in English with relative ease.
Several universities in Indonesia has set a certain TOEFL score for its students (Huda, 1999). In connection with efforts to improve the quality of college graduates, a regulation requiring college students have a mastery of the TOEFL to a certain extent is expected to have a positive impact and we should support. A good mastery of English are expected to increase the ability to think and work on a global level, the working conditions in the future we need to prepare from now.